Powered By Blogger

Selasa, 12 Agustus 2014

AKU ANAK YATIM PIATU


Kisah derita hidupku memang bukanlah sebuah karanganBukan juga hanya suatu bualanHidupku yang tak sendiri selalu bertemankan dengan kesendirianNamun tak juga pernah membuatku putus harapanKu 'kan terus berdiri tegak menantang kerasnya jaman

Liku hidupku yang penuh pilu dan tak menentuMerupakan sebuah kenyataan yang terlalu mengharu biruSebuah perjuangan yang 'kan ku kenang selaluInilah hidupku yang tak berAyah dan tak berIbuYang mereka sebut Anak Yatim Piatu

Sungguh kenyataan yang teramat pahitSungguh keadaan yang begitu sulitRintihan batinku yang menjerit sakit menjangkitDi saat mereka bilang masa depanku sempitNamun, di hati kecilku slalu terbesit kata semangat untuk terus bangkit

Sepi, sunyi, senyap adalah kata yang selalu akrab menemaniTiada lagi canda tawa riang gembira bernyanyiKebahagian semakin jauh pergi, dan kini kesedihan datang menghampiriTerkadang dibenak hati ingin sekali mengakhiri hidup yang tak berarti iniAyah dan Ibu, aku bertanya-tanya mengapa petaka ini harus terjadi ?

Di kala mereka semua bahagiaDi tengah kehangatan sang Ayah dan IbundanyaMataku menatap penuh rasa iri,hati meratapi dan rasa meranaTiada hentinya kelopak ini menitikkan peluh air mata penuh rasa terlukaTak ada lagi yang kan menghiburku di kala duka

Sedih kurasa, tawa dulu saat kita bersama, kini tinggal suara tangisku lirihMeski dalam kepedihan tapi ku tetap melangkah walau tertatihHatiku semakin perih di kala mereka menatapku seolah risihTak tahukah mereka, perlakuannya membuat nuraniku semakin merintih ?Hanya kepada-Mu lah aku bisa pasrah dan berdalih

Kebahagiaan mereka semua seolah hilir mudik menyindirKapankah sosok penuh kasih sayang kalian itu kembali hadirAyah dan Ibu, namamu kini bagiku hanya mengalir seperti sebuah lantunan syairKepergian kalian seakan menjadi hal yang masih tertutup tabirMengapa ? Kini aku bertanya-tanya penuh sesal mengapa harus terlahir ?

Mereka selalu bilang, aku adalah anak yang berlawanan dari kata beruntungHidup bagaikan di dalam sangkar terkurungKu hanya bisa duduk termenung merenungSelalu ku rindukan kalian di belakangku membimbing dan mendukungDan meyakinkanku dari rasa bimbang serta bingung

Ku sangat merindukan sikap ketegasan dan kepemimpinan darimu AyahKini, tanpamu hidupku terasa tiada arahJiwaku selalu mendesah penuh rasa resah gelisahBila amarah mengambil alih sudahAku pun tak tau kemana harus berserah

Ku sangat merindukan kasih dan sayangmu, IbuSelalu ku teringat raut wajahmu yang sayuSifatmu yang ramah, anggun serta luguSemua itu kini seolah musnah hilang tak berbauTiap malam ku hanya bisa menangis tersedu-sedu teringat olehmu

Aku selalu berharap ini semua hanyalah sebuah mimpiMimpi buruk yang kan segera hilang menepiTapi, tak kusangka sekarang kenyataan ini hanya bisa kuratapiKu jalani hidupku kini sendiri disini dalam sepiAku terus berpikir dan mencoba berhenti menyesal dan mengusap tiap air mata di pipi

Ayah dan Ibu, kini kalian telah pergi jauhSebuag keluarga yang kudamba rasanya kini seakan tidak lagi utuhWalaupun nanti aku telah tersungkur jatuhSekarang aku hanya bisa berjanji tak 'kan lagi mengeluhUntuk menggenggam masa depan secara penuh

Yatim Piatu, bagi kalian mungkin kata yang seramTapi janganlah kau anggap kami ini anak haramYang masa depannya tervonis suramAku tak 'kan mau hanya terdiam dalam pekatnya malam'Ku kan berdiri dan terus berlari menuju temaram

Wahai Tuhan yang Maha Pengasih lagi PenyayangBebaskanlah hidupku dari penyesalan yang membayangMudahkanlah aku menjalani hidup yang kian menantangKini ku ikhlaskan sudah orang tuaku berpulangSemoga mereka berdua beristirahat dengan tenang

Mungkin kami tanpa ayah, tanpa ibu, atau bahkan tanpa orang tuaTapi kami juga manusia, yang ingin dihargai serta hidup merdekaAyo kawanku, Yatim Piatu bukalah akhir segalanya, tetap jaga solidaritas dan jalin satu rasaKepedulian, Kebersamaan kita adalah awal menuju akhir yang bahagiaTidak usah minder ataupun rendah diri kita semua sama, semoga bisa menjadi pribadi-pribadi yang mulia...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar