Teruntuk hati yang padanya pernah kutitipkan hatiku.
Apa kabarmu?
Masihkah hatiku kau simpan pada tempatnya?
Ataukah sudah kau titipkan pada tukang kilo kertas diperempatan rumahmu.
Teruntuk dekap yg padanya pernah kutemukan hangat.
Adakah selain aku yg akhirnya menemukanmu?
Teruntuk mata yang pada tatapnya selalu meneduhkan hatiku.
Yang pada beningnya seolah mampu menenggelamkan khayalku.
Mungkinkah akan kembali hanya aku yg engkau tatap?
Teruntuk Tuan yang sekarang sedang dalam pencariannya.
Sudahkah kau temui rumah untukmu kembali?
Belum lelahkah kakimu melangkah?
Pulanglah..
Pulanglah jika ternyata tak lagi kau dapati rumah selain aku.
Pulanglah kembali kerumahmu yang dulu
sebab hangat perapiannya masih sehangat yang dulu.
Pulanglah..
Sebelum kopi disudut mejamu menjadi dingin.
Tertanda,
Puan yang masih dalam penantian
Makassar, Maret 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar